Senin, 30 November 2015

Materi Kebahasaan : Morfofonemik, Penghilangan, Penambahan, dan Perubahan Bunyi


MORFOFONEMIK I

1.      PENGERTIAN MORFOFONEMIK
Kata morfofonemik menunjukan adanya hubungan antara morfem dengan fonem. Morfofonemik itu sendiri merupakan perubahan bentuk sebuah morfem berdasarkan bunyi lingkungannya, yaitu yang menyangkut hubungan antara morfem dan fonem (Parera, 1988:30). Morfofonemik mempelajari perubahan-perubahan fonem yang timbul sebagai akibat pertemuan morfem dengan morfem lain (Ramlan, 1983:73).

Morfofonemik adalah kajian mengenai terjadinya perubahan bunyi atau perubahan fonem sebagai akibat dari adanya proses morfologi, baik proses afiksasi, proses reduplikasi, maupun proses komposisi. Contohnya, dalam proses pengimbuhan sufiks-an pada dasar “hari” akan muncul bunyi {y}, yang dalam artografi tidak dituliskan tetapi dalam ucapan di tuliskan.
Contoh : hari + an menjadi [hariyan]
Selain itu, dalam proses pengimbuhan sufiks-an pada dasar “jawab” akan terjadi pergeseran letak bunyi {b} kebelakang, membentuk suku kata baru.
Contoh : ja.wab + an menjadi [ja.wa.ban].

2.      PENGHILANGAN BUNYI
Proses hilangnya fonem /N/ pada meN- dan peN- terjadi karena adanya pertemuan morfem meN- dan peN- dengan bentuk dasar yang berawal dengan fonem /I,r,y,w,dan nasal/.
Misalnya:
meN- + lerai menjadi melerai
peN- + lupa menjadi pelupa

Fonem /r/ pada morfem ber-, per-, dan ter- hilang sebagai akibat pertemuan morfem-morfem itu dengan bentuk dasar yang berawal dengan fonem /r/ dan bentuk dasar yang suku pertamanya berakhir dengan /r/.
Misalnya:
Ber- + rapat menjadi berapat
Per- + ragakan menjadi peragakan
Ter- + rasa menjadi terasa

Fonem-fonem /p,t,s,k/ pada awal morfem hilang akibat peertemuan morfem meN- dan peN- dengan bentuk dasar yang berawal dengan fonem-fonem tersebut.
Misalnya:
meN- + paksa menjadi memaksa
peN- + pengkas menjadi pemangkas
Demikianlah proses morfofonemik yang dikemukakan oleh Ramlan, yaitu penggunaan perlambangan yang berbeda untuk afiks-afiks tertentu ramlan menggunakan lambing meN-, peN-, dan peN-an.

3.      PENAMBAHAN BUNYI
Proses penambahan bunyi, antara lain terjadi karena adanya pertemuan morfem meN- dengan bentu dasar yang terdiri atas satu suku kata fonem tambahannya ialah / /, sehingga meN- berubah menjadi menge-.
Misalnya:
meN- + bom menjadi mengebom
Proses penambahan fonem / / terjadi karena adanya pertemuan morfem peN- dengan bentuk dasar yang terdiri atas satu suku, sehingga morfem peN- berubah menjadi penge-.
Misalnya:
peN- + bor menjadi pengebor

Pada contoh-contoh tersebut diatas jelaslah bahwa selain proses penambahan fonem / /, terjadi juga proses perubahan fonem, yaitu perubahan fonem /N/ menjadi /n/ seperti yang telah dikemukakan pada pembahasan mengenai perubahan fonem. Pertemuan morfem –an, ke-an, pe-an dengan bentuk dasarnya, dapat menyebabkan adanya penambahan fonem /?/ apabila bentuk dasarnya berakhir dengan vokal /a/, penambahan /w/ apabila bentuk dasarnya berakhir dengan /u,o,aw/, dan terjadi penambahan /y/ apabila bentuk dasarnya berakhir dengan /i,ay/.
Misalnya:
-an + hari menjadi harian/hariyan/
ke-an + pandai/panday menjadi kepandaian/kepandayan/
per-an + hati mejadi perhatian/perhatiyan/
peN-an + cuci menjadi pencucian/pencuciyan/

4.      PERUBAHAN BUNYI
Proes perubahan fonem terjadi karena adanya pertemuan fonem meN- dan peN- dengan bentuk dasarnya. Fonem /N/ pada kedua morfem berubah menjadi /m,n,ñ,ŋ/, hingga morfem meN- berubah menjadi mem-, men-, meny-, dan meng-, an morfem peN- berubah menjadipem-, pen-, peny-, dan peng-. Perubahan-perubahan itu tergantung pada kondisi bentuk dasar yang mengikutinya. Dalam hal ini bunyi /N/ harus berubah menjadi bunyi nasal yang articulator dan daerah artikulasinya sama homorgan, dengan bunyi pertama bentuk dasarnya.
Misalnya :
meN- berubah menjadi mem- apabila melekt pada bentuk dasar yang diawali dengan fonem b sebab bunyi nasal yang homorgan dengan b/ adalah /m/.

Selanjutnya, kaidah-kaidah perubahan bunyi nasal (/N/) tersebut dapat di ikhtisarkan sebagai berikut :
a)      Fonem /N/ pada morfem meN- dan peN- berubah menjadi fonem /m/ apabila bentuk dasar yang mengikutinya berawal dengan /p,b,f/. Uraiannya sebagai berikut:
1)      meN- + bentuk dasar yang berawal fonem /p/,misalnya:
meN- + paksa menjadi memaksa
2)      peN- + bentuk dasar yang berawal fonem /p/,misalnya:
peN- + paksa menjadi pemaksa
3)      meN- + bentuk dasar yang berawal fonem /b/, misalnya:
meN- + bantu menjadi membantu
4)      peN- + bentuk dasar yang berawal fonem /b/, misalnya :
peN- + bantu menjadi pembantu
5)      meN- + bentuk dasar yang berawal fonem /f/, misalnya:
meN- + fitnah menjadi memfitnah
6)      peN- + bentuk dasar yang berawal fonem /f/, misalnya:
peN- + fitnah menjadi pemfitnah

b)      Fonem /N/ pada meN berubah menjadi fonem /n/ apabila bentuk dasar yang mengikutinya berawal dengan fonem /t,d,s,/. Fonem /s/ disini hanya khusus bagi beberapa bentuk dasar yang berasal dari bahasa asing yang masih mempertahankan keasingannya. Uraiannya adalah sebagai berikut :
1)      meN- + bentuk dasar yang berawal fonem /t/, misalnya :
meN- + tulis menjadi menulis
2)      peN- + bentuk dasar yang berawal fonem /t/, misalnya :
peN- + tulis menjadi penulis
3)      meN- + bentuk dasar yang berawal fonem /d/, misalnya :
meN- + datangkan menjadi mendatangkan
4)      peN- + bentuk dasar yang berawal fonem /d/, misalnya :
peN- + datang menjadi pendatang
5)      peN- + bentuk dasar yang berawal fonem /s/, misalnya :
meN- + support menjadi mensupport
6)      peN- + bentuk dasar yang berawal fonem /s/, misalnya :
peN- + support menjadi pensupport

c)      Fonem /N/ pada morfem meN- dan peN berubah menjadi /ñ/ apabila bentuk dasar yang mengikutinya berawal dengan /s, s, c, j/. uraiannya sebagai berikut:
1)      meN- + bentuk dasar yang berawal fonem /s/, misalnya :
meN- + sapu menjadi menyapu
2)      peN-+ bentuk dasar yang berawal fonem /s/, misalnya :
peN- + sapu menjadi penyapu
3)      meN- + bentuk dasar yang berawal fonem /s/, misalnya :
meN- + syaratkan menjadi mensyaratkan
4)      meN- + bentuk dasar yang berawal fonem /c/, misalnya :
meN- + cari menjadi meñcari
5)      peN- + bentuk dasar yang berawal fonem /c/, misalnya:
peN- + cari menjadi peñcari
6)      meN- + bentuk dasar yang berawal fonem /j/, misalnya:
meN- + jadi menjadi menjadi
7)      peN- + bentuk dasar yang berawal fonem /j/, misalnya :
peN- + judi menjadi penjudi

d)     Fonem /N/ pada meN- dan peN berubah menjadi /h/ apabila bentuk dasar yang mengikutinya berawal dengan fonem /k, g, x, h, dan vocal/. Uraiannya adalah sebagai berikut :

1)      meN- +  bentuk dasar yang berawal fonem /k/, misalnya:
 meN- + kacau menjadi mengacau
2)      peN-  +  bentuk dasar yang berawal fonem /k/, misalnya :
peN-  + kacau menjadi pengacau
3)       meN- + bentuk dasar yang berawal fonem /g/, misalnya :
meN-  + garis menjadi menggaris
4)      peN-  + bentuk dasar yang berawal fonem /g/, misalnya :
peN-  + garis menjadi penggaris
5)      meN-  + bentuk dasar yang berawal fonem /k/, misalnya :
meN-  + khayalkan menjadi mengkhayalkan
6)      peN-  + bentuk dasaar yang berawal fonem /k/, misalnya :
peN-  + khayal menjadi pengkhayal
7)      meN-  + bentuk dasar yang  berawal fonem /h/, misalnya :
meN-  + habiskan menjadi menghabiskan
8)      peN-  + bentuk dasar yang berawal fonem /h/, misalnya :
peN-  + habisan menjadi penghabisan
9)      meN- + bentuk dasar fonem awalnya berupa vokal, misalnya :
meN- + angkut menjadi mengangkut
10)  peN- + bentuk dasar fonem awalnya berupa vokal, misalnya :
peN- + angkut menjadi pengangkut

fonem /N/ juga berubah menjadi /h/ apabila menghadapi bentuk dasar yang terdiri atas satu suku kata. Uraiannya adalah sebagai berikut :
1)      meN- + bentuk dasar yang berawal fonem /b/, misalnya :
meN- + bom menjadi mengebom
2)      peN-  + bentuk dasar yang berawal fonem /b/, misalnya :
peN- + bom menjadi pengebom
Di samping proses perubahan, pada kata-kata itu terjadi juga proses penambahan, ialah penambahan fonem / /.
Fonem /r/ pada morfem ber- dan per- mengalami perubahan menjadi /l/ sebagai akibat.
Pertemuan morfem tersebut dengan bentuk dasarnya yang berupa morfem ajar
Ber-     +          ajar      menjadi           belajar
Per-      +          ajar      menjadi                                               pelajar                
Fonem /?/ pada morfem-morfem duduk /dudu?/, rusak rusa?/, petik /p ti?/, dan sebagainya, berubah menjadi /k/ sebagai akibat pertemuan morfem-morfem itu dengan morfem ke-an, peN-an, dan - i, misalnya :
Ke-an              +          duduk / dudu?/ menjadi kedudukan / k dudukan/
peN-an                        +          petik / peti?/     menjadi pemetikan / p m tikan/
- i                     +          petik / peti?/    menjadi petiki /p tiki/    



Tidak ada komentar:

Posting Komentar