Rabu, 11 November 2015

Cara Menanamkan Nilai Moral dan Keagamaan Pada Anak


KIAT MENANAMKAN NILAI MORAL KEAGAMAAN

Secara sederhana dua kiat yang dapat ditempuh oleh orangtua agar penanaman nilai moral keagamaan pada anak dapat berjalan efektif yaitu dengan pembiasaan dan keteladanan.

Quote:1. Pembiasaan

Melalui pembiasaan anak akan menjadi terbiasa untuk berbuat sesuatu tanpa terpaksa. Bila anak dibiasakan untuk melakukan kebaikan, niscaya dia akan tumbuh menjadi baik. Sebaliknya jika anak dibiasakan dengan keburukan serta terlantarkan niscaya ia akan menjadi orang yang berperilaku buruk dan cenderung merusak. 

Secara prinsip bentuk pembiasaan yang baik yang perlu diberikan pada anak ada paling tidak ada 14 macam, antara lain :
(1) berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan; 
(2) beribadah sesuai aturan dan keyakinannya;
(3) berbuat baik terhadap sesama makhluk Tuhan;
(4) selalu memberi dan membalas salam, berbicara dengan suara yang lemah dan teratur (tidak berteriak), mengucapkan terima kasih bila diberi sesuatu; 
(5) membedakan mana yang benar dan salah;
(6) mentaati peraturan yang ada; 
(7) menghormati orang tua dan orang yang lebih tua, mendengarkan dan memperhatikan orang lain berbicara;
(8) berbahasa sopan dan bermuka manis; 
(9) senang bermain dan bekerjasama dengan orang lain, dapat memuji, mengakui kelebihan teman/orang lain; 
(10) berani bertanya, mengemukakan pendapat dan mampu mengambil keputusan secara sederhana;
(11) suka menolong, mau memohon dan memberi maaf; 
(12) menolong diri sendiri, memelihara kebersihan diri dan lingkungannya; 
(13) berhemat;
(14) bertanggung jawab.

Quote:2. Keteladanan.

Sementara melalui keteladanan anak akan cenderung berbuat baik seperti yang dilakukan langsung oleh para orangtua. Di sini orangtua harus menjadi contoh yang baik. Bila orangtua menyuruh sang anak untuk bangun pagi dan sembahyang, maka mereka harus mau bangun lebih awal dan mengajak anak untuk sembahyang. Bila anak disuruh bangun pagi dan sembayang sementara orangtuanya sediri tidak melakukan hal itu, hal itu bukanlah bentuk keteladanan yang baik.

Harus dipahami bahwa sesuai dengan karakteristiknya yang suka meniru, di lingkungan keluarga orang tua (ayah dan ibu) adalah teladan yang akan ditiru oleh anak, apapun bentuknya. Tidak peduli itu benar atau salah, merugikan atau tidak merugikan orang lain, memalukan atau tidak memalukan. Hal ini dikarenakan ayah dan ibu adalah tokoh yang diidolakan, diunggulkan dan dianggap orang yang terbaik, terpandai, terbijaksana dan terter yang lainnya. Sehingga jangan heran apabila anak tidak saja akan meniru tutur kata, sikap dan perilaku orang tua yang baik-baik saja, tetapi juga yang buruk termasuk yang menurut standar kesopanan dan moral sangat memalukan.

Menanamkan nilai moral agama pada anak perlu diberi porsi yang cukup agar kepribadiannya menjadi baik. Selain itu, anak juga perlu dikenalkan dengan konsep diri yang positif serta kedisiplinan, karena ini akan berimbas pada perilaku di masa remajanya. Terutama dalam hal bisa tidaknya ia memandang dirinya secara positif serta ketaatan terhadap segala bentuk aturan, adat istiadat dan budaya setempat tempat dimana ia hidup dan berinteraksi dengan orang lain maupun lingkungannya. Dengan tertanamnya nilai moral agama secara baik pada anak, anak akan mampu menfilter pengaruh buruk dari luar. Mampu memilih hal yang pantas dan tidak pantas untuk dilakukan sebagai seorang anak, mampu membedakan baik buruk, serta antara yang hak dengan yang bukan haknya. Oleh karenanya, ia siap untuk dididik menjadi generasi penerus bangsa yang dapat diharapkan perannya dalam pembangunan menuju kebesaran dan kejayaan bangsa di kemudian hari. Sementara itu bagi keluarga, jelas akan membawa nama harum keluarga dan orangtua karena perilaku dan tindakannya yang benar-benar terpuji.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar