Kamis, 01 Oktober 2015

CERPEN : MENANGKAP HANTU

Menangkap Hantu 


CERPEN : MENANGKAP HANTU

Oleh Ipal

Azan maghrib berkumandang dari arah kampung. Langit senja berwarna merah dan kuning. Daerah rawa di dekat kampung itu sudah gelap dan sunyi. Itu karene pohon pohon rumbia tumbuh cukup lebat di situ.
“Kin,Nu, sudah gelap, ayo pulang.” Badi mengiatkan kedua temannya.
“Ah, sebentar lagi tanggung,” balas Kikin sambil memegang jaringnya.
Sementara Rinu agak ke tengah rawa sibuk menyerok ikan dengan jarring. Badi mendapat tugas memegang keranjang hasil tangkapan. Ikan-ikan di dalam keranjang rotan melompat-lompat. Hari itu tangkapan mereka banyak sekali.
Angina senja bertiup pelan. Baun-daun rumbia berbunyi saling bergesekan. Terdengar  suara serangga hutan rumbia. Badi mulai gelisah. Keringat dingin membasahi keningnya. Padahal, udara sekitar sudah mulai dingin. Dia teringat cerita Nenek Bibah bahwa di hutan rumbia ini banyak “penunggunya”. Badi jadi menyesal mengikuti ajakan Kikin dan Rinu pulang sekolah tadi. Menangkap ikan di rawa hutan rumbia ini. Badi inhgat, waktu ia menolak ajakan itu, Kikin berkata, “Ah, itu kan hanya cerite Nenek Bibah. Nenek Bibah memang suka bercerita yang seram-seram.”
Tiba-tiba, ada benda dingin menempel di kaki Badi. Ia gelagapan. Terdengar suara tawa Kikin dan Rinu. Ternyata mereka melemparkan lumut ke kaki Badi.
“Haha, lagi melamun hantu, ya?”  ledek Rinu. Badi tersenyum kecut.
“Yuk, pulang. Ternyata disini banyak sekali ikannya.  Besok-besok kita kesini lagi,” ajak Kikin sambil mengemasi perlengkapan mereka. Badi tidak bersuara. Dia ingin cepat-cepat pulang. Dia tidak suka mendengar bunyi geaekan daun-daun rumbia itu. Seperti bunyi orang bertepuk tangan. Sebelum pulang, Kikin mengajak mereka ke pancuran dulu untuk membersihkan kaki dari Lumpur.
“Kita langsung pulang saja,” kata Badi pucat. Dia teringat cerita Nenek Bibah, kalau di pancuran itu pernah ada orang berjubah putih.
“Kenapa?” Tanya Kikin. “Kita kan kotor sekali, belepotan lumpur.”
“ Nenek Bibah bilang ada orang berjubah putih di pancuran ini,” ujar Badi setengah berbisik.
“Mudah-mudahan sekarang tidak ada,” balas Rinu tersenyum mengejek. Kemudian dia mencuci muka, tangan, kaki serta jarring dari kotoran lumpur.
“Brrr, airnya dingin sekali!” seru Kikin yang mencuci kakinya. Namun Badi tidak melakukan apa-apa. Matanya bergerak kian kemari mengawasi sekeliling pancuran yang di tumbuhi rumpun bambu, pohon-pohon liar dan semak-semak.
Ketika mereka hendak meninggalkan pancuran, Badi nyaris menjerit. Ia melihat sosok putih diatas sebuah batu besar. Entah sejak kapan dia ada disitu.
“Kin, Nu, kalian melihat sosok putih itu?” Tanya Badi dengan suara bergetar.
“Ya, aku melihatnya,” balas Kikin parau.
“Aku juga,” jawab Rinu pelan. Mereka berjalan setengah berlari meninggalkan pancuran itu.
***
Esoknya, di senja hari, Badi bersiap pergi ke surau untuk mengaji. Di perjalanan, dia bertemu Kikin dan Rinu. Sepertinya, mereka juga akan berangkat ke surau. Namun, ada gulungan jala di tangan Kikin.
“Ayo, ikut kami ke pancuran,” ajak Rinu. Bdi mendadak merinding teringat sosok putih kemarin.
“Kita akan menangkap hantu pancuran kemarin itu,” jelas Rinu tenang. Dia menunjuk jala di tangan Kikin.
“Tapi kita akan terlambat mengaji lagi. Ustadz Hamid akan menegur kita lagi,” tolak Badi halus. Kemarin, gara-gara telat datang, mereka kena marah.
“Tidak apa-apa. Yang penting kita harus membuktikan bahwa hantu tidak ada,” jelas Rinu meyakinkan Badi.
“Ayo, jangan jadi penakut,” kata Kikin. Akhirnya, badi mau juga bergabung dengan Kikin dan Rinu.
Sesampainya di pancuran, hari sudah hampir gelap. Dari tempat mereka bersembunyi di balik semak-semak, tampak jelas sosok putih diatas batu. Badi mulai menggigil ketakutan. Udara dingin mebuat ia tambah gemetar.
“Kita dekati dia,” bisik Kikin. Rinu siap dengan jala ditangannya. Badi hanya terdiam dengan bibir bergetar. Sosok putih itu tampak mulai bergerak naik.
“Seraaaaang…” Rinu dan Kikin menyergap sosok putih itu dengan jala. Terjadi keributan kecil ketika sosok itu berteriak-teriak kaget.
“Hei, lepaskan aku! Apa-apaan ini ! kalian berdosa mengganggu nenek-nenek.!” Ujar sosok itu mencak- mencak. Badi merasa kenal suara itu. Nenek Bibah dengan sarung kotak-kotak putihnya.
“Awas, aku adukan kalian pada Ustadz Hamid.”
“Maaf, Nek, kami kira Nenek Hantu berjubah putih di pancuran ini. Kami ingin membuktikannya,” jawab Badi.
“Hantu berjubah putih?! Tidak ada hantu disini. Setiap sore aku memang mandi disini. Tapi, karena udara dingin, aku menutup tubuhku dengan sarung putih ini,” jawab Nenek Bibah mulai tenang.
“Lantas, bagaimana dengan cerita hantu pancuran itu?” Tanya Kikin.
“Itu hanya ceritaku. Supaya kalian pergi mengaji di surau dan tidak keluyuran ke mana-mana!”
“Maafkan kami, Nek. Kami tidak bermaksud mengganggu nenek,” ucap Badi tulus.
“Iya, sudah, sudah! Aku mau cuci kaki lagi! Kalian menginjak kakiku!”
Dalam perjalanan ke surau, ketiga anak itu tertawa terpingkal-pingkal. Mereka senang berhasil memecahkan rahasia cerita hantu pancuran itu. Namun, yang paling penting, mereka berhasil mengatasi rasa ketakutan mereka sendiri. Mereka juga berjanji tidak akan keluyuran lagi di sore hari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar